Search for:

Elemen Dasar Dalam Editing ( 6 element of the edit)

Editing for motion pictures is the process of organizing, reviewing, selecting, and assembling the picture and sound “ footage ” captured during production. The result of these editing efforts should be a coherent and meaningful story or visual presentation that comes as close as possible to achieving the goals behind the original intent of the work to entertain, to inform, to inspire, etc.

——————————————————-

Editing adalah proses mengorganisir, reviewing, memilih, dan menyusun gambar dan suara hasil rekaman produksi. Editing harus menghasilkan tayangan gambar yang padu dan cerita yang penuh makna sesuai apa yang telah direncanakan sebelumnya yaitu untuk menghibur, menginformasikan, memberi inspirasi dan lainnya

” Roy Thompson and Christopher Bowen : Grammar of the Edit

Editing dibangun oleh beberapa elemen. Hasil dari sebuah editing tergantung pada bagaimana elemen tersebut digunakan, bagus tidaknya dan apakah gambar mengganggu atau tidak saat ditonton. Elemen-elemen tersebut adalah:

  1. Motivasi
    Dalam mengedit harus selalu ada motivasi atau alasan yang jelas pada saat memindah, menyambung, atau saat menggunakan perpindahan serta fade. Motivasi ini bisa dalam gambar, suara maupun kombinasi gambar dengan suara.
  2. Informasi
    Gambar yang memiliki informasi adalah dasar dari sebuah editing. Setiap shot baru berarti mempunyai informasi yang baru pula dan susunan harus ideal agar gambar menarik. Karena semakin penonton mendapatkan banyak informasi dan mengerti maka ia akan semakin menikmati dan seperti terlibat dalam cerita sebuah tayangan. Tugas seorang editor untuk mendapatkan gambar yang penuh informasi dalam sebuah program, namun tanpa kesan menggurui penonton.
  3. Komposisi
    Meskipun editor tidak bisa menciptakan suatu komposisi gambar, namun salah satu tugas editor adalah memilih dan menyusun shot yang ada dengan komposisi menjadi dapat diterima. Karena komposisi shot yang buruk adalah hasil dari proses shooting yang buruk.
  4. Suara
    Suara adalah elemen penting dalam editing, suara bukan hanyalebih langsung dari gambar namun juga lebih abstrak. Suara dapat membangun suasana dan emosi yang menjadi suatu daya tarik serta dapat digunakan untuk menyiapkan penonton dalam pergantian scene ataupun cerita.
  5. Angle kamera
    Elemen paling penting dalam editing, pada prinsipnya saat perpindahan shot yang satu dengan yang lain harusnya berbeda angle. Perbedaan angle satu objek/subjek adalah kurang dari 45o, sedangkan untuk garis khayal antara dua objek adalah tidak lebih dari 180o, jika melebihi ini maka akan terjadi jumping gambar.
  6. Kontinuitas atau kesinambungan gambar dimana setiap perpindahan shot baru dengan agle dan komposisi baru merupakan kelanjutan dari shot sebelumnya. Kesinambungan ini mencakup kontiniti konten, pergerakan, posisi dan suara.

Pada prinsipnya editing bukan hanya memotong dan menyambung shot, namun yang perlu diperhatikan bahwa setiap shot memiliki aspek ruang dan waktu. Maka perhitungkan bagaimana susunan shot tersebut efisien dan tidak bertentangan dengan logika penonton. Hal tersebut bisa dicapai dengan cara sebagai berikut:

  1. Kontinuitas aksi (continuity action)
    Aksi yang terdapat pada suatu shot dengan shot berikutnya tidak mengalami perubahan mendadak dalam kecepatan gerakan dan arah gerakan.
  2. Arah layar (screen direction)
    Objek/subjek yang sama pada setiap shot harus mempertahankan arah gerakan yang sama.
  3. Garis mata (looking room)
    Garis mata subjek yang melihat ke suatu arah haruslah sesuai dengan arah yang dipercaya penonton merupakan tempat apa yang dilihat subjek.

Agar hasil edit memiliki cerita menarik, memiliki taste dan bisa membawa penonton menikmatinya, ada beberapa pedoman editor yang harus diperhatikan, yaitu:

  1. Memahami konsep cerita/naskah.
  2. Melihat terlebih dahulu (preview) seluruh gambar dan mencatat shot yang penting dan menarik.
  3. Selalu gunakan gambar terbaik sebagai gambar pembuka.
  4. Mengatur komposisi dan durasi shot baik shot statis dan shot bergerak (pan,zoom,dll).
  5. Hindari perpindahan gambar dan suara secara mendadak, tambahkan efek jika diperlukan. Setiap efek yang digunakan selain memberi makna tertentu juga akan memberi kesan tersendiri.
  6. Memberikan jeda gambar dan suara sejenak dengan atmosfer, untuk memberi kesempatan penonton untuk menikmati.
  7. Untuk program yang memakai narasi dan wawancara jangan meletakkan terlalu rapat biarkan ada jeda, ini membantu penonton untuk memahami bahwa ada pergantian pembicara.
  8. Jika program memakai narasi, ingatkan narator untuk membaca narasi tidak terlalu cepat maupun lamban.

Sumber referensi : Roy Thompson and Christopher Bowen : Grammar of the Edit

Menbuat dan merancang storyboard / papan cerita

Pengertian

Storyboard merupakan garis besar visual dari sebuah film atau animasi. Ini adalah bagian penting dari proses praproduksi dan terdiri dari serangkaian gambar yang menunjukkan segala sesuatu yang akan terjadi pada karya akhir.

Banyak storyboard yang digambar dengan tangan, tetapi beberapa pembuat atau animator memilih untuk menggunakan software storyboard. Hasil akhirnya menyerupai buku komik atau novel grafis.

Mengapa Storyboarding Penting?

Jika kita sedang mengerjakan skrip, maka kita sudah mengetahui alur cerita. Kuncinya adalah menerjemahkan aliran cerita itu dan ide-ide baru dari bentuk kata ke bentuk gambar. Setiap gambar di storyboard kita perlu menyertakan informasi yang cukup sehingga seseorang yang belum pernah membaca naskah kita dapat melihatnya dan mengetahui apa yang sedang terjadi. Tetapi tidak boleh berisi terlalu banyak informasi, karena itu akan menghilangkan detail yang relevan.

Pikirkan storyboard sebagai novelisasi grafis dari naskah kita, di mana setiap panel mewakili sudut kamera baru atau momen penting dalam adegan.

Tujuan dari proses storyboard ada dua: untuk memastikan bahwa kita mendapatkan semua adegan yang kita butuhkan di lokasi syuting untuk menyusun cerita yang koheren dan menarik saat di edit, dan melakukannya dengan cara yang ekonomis, untuk menghindari menghabiskan waktu untuk membuat film yang tidak perlu pengambilan gambar atau kehilangan uang dalam produksi video atau efek khusus.

storyboard yang bagus bisa sangat berguna saat mengarahkan urutan adegan. Membuat daftar shot kita bisa menjadi prinsip pengorganisasian dalam hiruk-pikuk pembuatan alur cerita yang rumit. Storyboard menjadi peta akurat tentang apa yang hampir pasti terjadi saat syuting.

Cara Membuat storyboard

Ikuti langkah-langkah berikut untuk membuat storyboard.

1. Buat shot list.

Ambil adegan dari naskah kita dan buat daftar pengambilan gambar. Bagaimana sudut kamera tertentu menceritakan kisahnya. Apa yang dapat kita ungkapkan tentang karakter dan cerita kita melalui sudut kamera. Gambarlah sketsa kasar daftar foto Anda.

2. Buat sketsa.

Baik kita sedang mengerjakan film atau animasi pendek, pilih salah satu rangkaian cerita yang lebih kompleks, dan lihat arah adegan tersebut. Buat daftar semua gambar yang Anda antisipasi perlu sebagai bahan mentah, lalu buat sketsa di kotak storyboard kita, seperti strip komik. Jika kita bukan seniman yang dapat menggambar, kita boleh menggunakan bentuk dasar dan gambar tempel di selembar kertas. Namun jika kita tidak mendapatkan efek yang diinginkan, kita dapat bekerja sama dengan artis storyboard untuk membuat perubahan atau memetakan urutan yang diusulkan.

3. Isi detailnya.

Storyboard kita harus berisi elemen terpenting dari setiap adegan. Namun, meskipun itu adalah gambar statis, hasil akhirnya adalah video atau animasi bergerak yang mengikuti keseluruhan jalan cerita. Dengan mengingat hal itu, pastikan untuk menunjukkan gerakan di storyboard yang kita buat. Misalnya, kita dapat menunjukkan arah jalan seseorang dengan panah. Kita juga ingin memasukkan properti apa pun yang akan ada di film kita, serta sudut kamera dan framing setiap shot. Aturan praktis yang baik adalah menyertakan garis besar umum dari semua detail yang relevan dari setiap shot.

4. Tambahkan keterangan.

Setelah kita membuat gambar sketsa, mungkin ada gunanya menambahkan keterangan tambahan di bagian bawah gambar untuk memberikan lebih banyak konteks tentang apa yang sedang terjadi. Ini adalah tempat yang tepat dalam proses storyboard untuk memasukkan apa pun yang tidak dapat diekspresikan dalam sketsa gambar kita, seperti suara apa pun yang kita rencanakan untuk disertakan.

error: